Nov
01

Benahi Wajah dengan Botox
Cetak
PDF

Meski istilahnya cukup tenar, namun tak sedikit wanita masih meraba pengertian botox. Ada yang mengatakan botox itu implan silikon untuk wajah, operasi kulit yang berbahaya, atau suntik kecantikan yang dapat mematikan.

DOKTER spesialis kulit dan kelamin Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB) Dr Arthur S Simon SpKK menjelaskan, botulinum toksin A (Botox A) adalah eksotoksin berpotensi tinggi yang diproduksi oleh kuman anaerob Clostridium botulinum. Pada abad ke-19, toksin ini pernah dibahas oleh seorang dokter Jerman, Kerner dan pada tahun 1944. Toksin ini berhasil diisolasi oleh E Shantz, kemudian digunakan dalam pengobatan otot-otot yang kejang.

Sejak tahun 1989 di USA dan 1991 di Inggris, toksin ini diizinkan untuk mengobati banyak kasus di bidang neurologi dan mata. Akhir Maret 2002, botox diizinkan di USA untuk menghilangkan kerut di wajah.

Publikasi pertama penggunaan botox untuk menghilangkan kerut di wajah dilakukan oleh pasangan Carruthers. Untuk pengobatan blefarospasmus, Jean Carruthers mengamati bahwa dengan melemahkan otot, maka kerutan di wajah berkurang, terutama di daerah glabela. Sejak itu, Botox A mulai banyak digunakan untuk menghilangkan kerutan di wajah dan juga di daerah lain seperti dahi, hidung, samping dan bawah mata. "Botox ini sangat aman penggunaannya selama dalam pengawasan dan konsultasi dokter," kata Arthur.

Dikatakan, konsultasi sangat penting dilakukan untuk menentukan kapan botox merupakan alternatif untuk operasi bagi pasien, atau tindakan lain, dan kapan penyuntikan dianjurkan setelah operasi, filler, atau peeling. "Pada dasarnya, suntikan botox dianjurkan untuk dilakukan terlebih dahulu sebelum tindakan lain dengan jeda satu minggu," paparnya.

Pada sebagian kasus kelainan, lanjut Arthur, operasi dapat memberikan hasil yang lebih baik dari suntikan botox. Misalnya pada alis. Jika alis tidak terlalu turun, suntikan botox dapat mengatasi. Akan tetapi bila sudah turun banyak, operasi merupakan pilihan terbaik untuk mengangkat alis tersebut.

Selain memperbaiki posisi alis, botox dapat mengatasi berbagai masalah pada wajah, misalnya kerut pada dahi, bentuk sisi mata, bentuk hidung, dan kerutan pada kulit leher.

Seperti diketahui, sinyal yang dikirimkan dari otak ke serat otot dapat menghasilkan ekspresi wajah, yaitu senyum, tertawa, cemberut, dan sebagainya. Pada kondisi itu, otot akan melakukan kontraksi, sehingga menimbulkan kerutan. Jika hal ini berlangsung secara berkesinambungan, maka akan terjadi bekas kerutan yang cukup dalam. Wajah pun tampak lebih tua.

Dalam hal ini, botox yang disuntikkan pada bagian yang berkerut akan menghambat sinyal tersebut sehingga otot menjadi relaks dan tidak berkontraksi. Kerutan pun tidak akan timbul. Botox berfungsi menahan otot bagian tertentu, sehingga alis atau rahang menjadi lebih naik posisinya.

Dari berbagai artikel kesehatan, penggunaan botox diakui cukup aman. Bahkan telah diakui oleh beberapa badan kesehatan dunia (FDA) dan telah digunakan di lebih dari 60 negara. Selama bertahun-tahun digunakan dalam dunia kedokteran dan kecantikan, belum pernah ditemukan efek samping yang buruk akibat penggunaan botox. Namun, terapi botox tidak boleh dilakukan pada wanita hamil dan sedang menyusui.

Namun Arthur menyebutkan, efek lokal bisa saja terjadi jika teknik injeksi botox kurang tepat. Misalnya, dapat timbul pembekuan darah (hematom) setelah suntikan. Akan tetapi, hal ini dapat dihindari dengan penekanan dan pendinginan.

Kadang juga timbul sakit kepala, ptosis, hilangnya fungsi otot yang berdekatan, tidak berefek, rasa baal. Gangguan penglihatan dan mata kering yang bersifat sementara, juga dapat terjadi bila mata terpapar langsung dengan botox. "Akan tetapi, dengan tehnik suntik yang benar dan pengalaman, hal ini dapat dihindari. Gejala keracunan seperti lemas seluruh tubuh, gangguan menelan dan bicara, sampai saat ini juga belum pernah dilaporkan dalam pengobatan dengan botox untuk masalah estetik," papar Arthur.

Artikel kesehatan lain juga menjelaskan, untuk mengantisipasi efek samping akibat suntik botox ini, pasien dianjurkan agar tidak mengonsumsi obat yang mengandung pembeku darah atau pelancar keluarnya darah selama dua minggu sebelum terapi dilakukan. Perawatan sesudah terapi botox hampir tidak ada. Bahkan disebutkan tidak ada pantangan apa pun, termasuk pantangan kosmetik atau makanan.

Pada wajah, botox dapat bertahan selama 4 – 6 bulan. Pengulangan dapat dilakukan dengan cara yang sama, namun sifatnya tidak mutlak. Jika tidak diulang, tidak perlu ada kekhawatiran terjadi efek pengerutan yang lebih parah. Sebab mekanisme kerja botox hanya merelaksasikan otot yang tegang dengan cara menghambat keluarnya zat penyebab kontraksi.

Saat ini, sambung Arthur, tersedia tiga macam botox di pasar, yaitu botulinum toksin tipe A: Botoxdan Dysportdan botulinum toksin tipe B: Neurobloc. "Laporan laporan mengenai penggunaan botox terbanyak adalah dengan BotoxA," ujarnya. (lhl)

sumber : http://www.kaltimpost.co.id/?mib=berita.detail&id=49854#